Mengenal Kemasan Kaleng (Metal Packaging) Untuk Makanan dan Minuman

Bersyukur saya diberikan Alloh kesempatan menerjuni secara praktis / operasional mesin-mesin printing segala jenis seperti offset, flexo, rotogravure dan sekarang sdh berjalan 2 thn lebih tengah mendalami cetak kemasan kaleng metal maupun kaleng plastik (flexo), semoga bisa bermanfaat juga buat anda.

Perkembangan Kemasan selain dari bahan dasar kertas maupun Plastik sudah demikian beragam dan sangat multi proteksi. Tidak ketinggalan pula di bidang kemasan kaleng yang sangat dikenal lebih tahan lama dan melindungi lebih kuat produk di dalamnya. Beberapa pabrik pembuat kemasan kaleng dapat di bagi dalam beberapa tipe :

1. Kemasan produk makanan dan minuman
2. Kemasan Pelumas, oli mobil dan sejenisnya
3. Kemasan produk industri termasuk bahan kimia, cat, pestisida, tinta, tinner, dan bahan pelarut lainnya
4. Kemasan Aerosol, Semprotan obat serangga
5. Kompoen yang biasnaya di pakai oleh pabrik pembuat kemasan kaleng

Jenis Kemasan kaleng ini umumnya disebut 2 PC yaitu bagian body plus bottom menyatu kemudain di tambahkan bagian atas (Top). Sedangkan tipe lain adalah 3 Piece can yaitu antara Body, Bottom dan top terpisah. Kebanyakan tipe 2 PC di aplikasikan di produk minuman ringan maupun beer. Sedangkan 3 PC di aplikasikan untuk kaleng makanan, cat dan kaleng bahan kimia industri termasuk minyak pelumas.

Kemasan kaleng Makanan umumnya berukuran Ǿ 52 mm sampai Ǿ 285 mm. Untuk kemasan kaleng cat berkisar ¼ liter sampai 25 liter dengan bentuk Cylindrical (Lingkaran), rectangular (Segi empat), dan conical (Kemasan ber tutup). Kesemua bentuk kemasan ini tentu saja di cocokan dengan produk yang akan di kemas. Seperti dalam kemasan Oli pelumas bisa di bentuk rectangular dengan volume 1 liter bentuk kemasan round dan 4-5 liter dalam bentuk rectangular.

Dari semua bentuk kemasan kaleng tipe aerosol mungkin yang kurang populer di dengar padahal sudah banyak kemasan yang memakai tipe aerosol ini. Seperti kemasan untuk obat semprot serangga, nyamuk dan lainnya adalah dalam tipe aerosol. Dimensi ukurannya adalah sbb:
Diameter : 52-57-65 mm
Tinggi : bervariasi mulai 10 cm sampai 45 cm atau sesuai ukuran yang di pesan
Kapasitas isi : 150 – 750 mm

Tipe aerosol yang umum juga seperti kemasan penyejuk/ pengharum ruangan, cat pilok, busa cukur, dll. Bagian dari kemasan kaleng dapat di pisahkan dalam bentuk terpisah antara lain:
– Dalam bentuk lembaran bahan tin plate
– Lids
– Ends
– Necks
– Caps
– Handles

Kemasan kaleng umumnya di cetak dengan Metode cetak Lithographi (Offset) atau lebih dikenal dengan Offset metal decorating. Dengan dicetak di bahan Tin, Aluminum, dan modifikasi logam alloy. Bahan logam tersebut akan di lapisi terlebih dahulu (coating) dengan Varnish saizing (clear sizing, tonner sizing atau gold lacquer) atau untuk mendapatkan efek putih di pakai white coating. Semua metode pelapisan umumnya di pakai mesin pelapis (Coater) dengan ketebalan yang di ukur µm (?).

Setelah di lapisi logam terlapis Varnish sizing atau White Coating Kemudian akan di panaskan antara 170-180  C selama 12-15 menit melewati pemanggang raksasa berjarak 5- 6 meter. Setelah melewati pemanggang bahan pelapis sudah kering dan siap di cetak dengan tinta offset/Lithography. Pencetakan gambar berwarna proses (Cyan, Magenta, Yellow, dan Black bisanya naik 2 warna kemudain dilanjut 2 warna berikutnya. Proses pengeringan tinta offset juga melalui pemanggang dengan suhu berkisar 140-160 C selama 12-15 menit.

Kemudian proses akhir lapisan tinta akan di lapisi dengan Varnish untuk membuat cetakan tahan gores dan tahan panas. Untuk bagian lain yang akan menjadi bagian dalam kemasan permukaan kaleng akan di lapisi juga dengan varnish coating dengan tujuan mencegah bersinggungan langsung produk dengan kelang sehingga bisa mengakibatkan karat dan terkontaminasi.

Setelah semua permukaan tercetak dan di varnish kaleng akan dilanjut ke proses pengetesan untuk mengetahui kekuatan kemasan sehingga bisa mencegah kerusakan kemasan yang berakibat merusak produk. Test lainnya adalah Retort test dan Pasteurisasi. Yang akan dbahas di tulisan lain.

Kondisi lingkungan yang semakin berpolusi dan banyaknya kemasan yang menjadi sampah, beberapa enduser berusaha membuat kemasan kaleng dengan gambar yang lebih personal, memuat gambar bercerita ttg sebuah acara dan lainnya, sehingga penikmat makanan dalam kemasan kaleng bisa membuat kemasan kaleng sebagai suvenir atau barang hiasan rumah, bahkan menjadi alat simpan alat tulis atau lainnya.
Demikian sekilas tentang kemasan dalam kaleng yang cukup menarik di ketahui. Semoga bermanfaat.(se-sgn)

Sugeng Endarsiwi/ Pekerja Grafika

KEMASAN ITU BISA MENJUAL

Saat ini, kemasan sudah melampaui fungsi basic-nya sebagai pembungkus dan pelindung. Dalam marketing, ia sudah menjadi tools yang berfungsi sebagai “silent salesman” di rak-rak toko dan rumah konsumen, bahkan juga untuk membangun loyalitas konsumen terhadap produk. Sayangnya, masih banyak pemilik merek yang tidak mau berinvestasi dalam kemasan. “Padahal, desain kemasan yang bagus tidak berarti harus mahal. Hal itu tergantung bagaimana packaging designer menyiasati dan mencari material terbaik, tapi sesuai dengan anggaran pemilik merek,” tutur Roslyn N Wiria, Design Director PT Synzygon Brand Komunikasi. Roslyn juga menyoroti sejumlah hal seputar kemasan. Berikut perbincangannya dengan David S Simatupang dan fotografer Kusnadi Assaini dari MARKETING. Apa sebenarnya packaging (kemasan) itu? Packaging sebenarnya gabungan antara sains (dalam hal melindungi produk) dan seni (dalam hal merepresentasikan produk). Sains lebih mengarah kepada desain struktural yang ergonomis dan berfungsi untuk memudahkan pemakai dalam proses pengidentifikasian, penggunaan, penempatan, pengepakan, penyimpanan, dan distribusi sebuah produk. Jadi, bagaimana desainnya bisa stabil jika diletakkan; kalau dipegang tidak masalah; display, penggunaan, dan pengirimannya bagus. Sedangkan seni menyangkut bagaimana teks, warna dan gambarnya bisa menarik perhatian dan mengikat emosi orang yang melihatnya. Dalam marketing, packaging merupakan sarana komunikasi sebuah produk. Kemasan menjadi sarana terbaik untuk mendorong konsumen untuk membeli sebuah produk dan untuk membangun loyalitas konsumen terhadap produk. Sebab, packaging bisa menjadi “personal statement” bagi konsumen untuk menunjukkan jati diri mereka. Unsur-unsur apa saja yang terdapat dalam sebuah kemasan? Banyak, di antaranya:

1. Elemen-elemen visual yang terdiri dari: bentuk, gambar, tulisan serta warna.

2. Material yang digunakan: kertas, plastik, gelas, kayu atau metal.

3. Elemen brand identity: logo, maskot, slogan, dan endorsement.

4. Ukuran: berat atau isinya (gram/liter).
5. Informasi-informasi yang menjelaskan (labeling): data perusahaan, cara penyimpanan, cara pemakaian, manfaat produk, tanggal kadaluwarsa, barcode, tanda halal (makanan/minuman), info/peringatan (obat-obatan), serta authentication seal (untuk menjamin barang itu baru dan asli). Apa yang harus diperhatikan dalam membuat desain kemasan yang powerful? Sebenarnya tergantung target market dan strategi marketingnya. Misalnya produk ini ditujukan untuk demografi kayak apa, umur berapa, gaya hidup dan SES-nya apa. distribusinya mau ke mana: ke kota-kota saja atau ke seluruh Indonesia. Setelah itu, kita baru bisa mulai membicarakan desain yang cocok dengan target market tersebut. Mulai dari warna, teks, bentuk dan ukuran yang sesuai dengan gaya hidup mereka. Suplai materialnya pun harus dipikirkan: adakah vendor yang bisa mencetak material menurut keinginan kita. Konsumennya juga penting. Mereka mesti dilibatkan sejak awal karena packaging itu selalu mengikuti keinginan konsumen (melalui brand research). Jadi segmentasi, targeting, dan positioning itu sangat penting? Ya. Itu bedanya packaging dengan desain yang lain. Jika yang lain, hubungan antara produk dan marketing itu ada barrier-nya. Sedangkan kalau packaging itu langsung ke marketing.

Dia ikut menentukan apakah produk itu laku apa tidak. Kenapa dan kapankah sebuah merek perlu ganti kemasan? Ini menarik. Karena pada era 1990-an, sebagian besar desain dari sebuah kemasan bisa bertahan 5-7 tahun. Tetapi sekarang, dengan begitu banyaknya perubahan (internet, teknologi, dan tren pasar), maka rata-rata dalam 2 tahun kemasan sudah diganti. Penggantian ini sangat diperlukan karena kemasan harus mampu mengatisipasi perubahan-perubahan yang ada, serta selalu mengikuti keinginan konsumen. Contoh, suatu produk ketika launch diperkirakan untuk kelas A. Ternyata perekonomian berkembang, sehingga kelas B juga tertarik. Sebenarnya, kemasan tidak perlu diganti secara total. Ada yang cuma perlu diperbaiki saja (improvement) karena: target pasarnya berubah, mengikuti tren, terjadi brand dilution and confusion, materialnya tidak eco-friendly, bentuknya fragile atau tidak aman, tidak sesuai dengan norma dan budaya, atau terjadi kenaikan harga material. Tapi bisa juga diadakan perubahan total. Misalnya, karena ingin mengubah brand perception yang buruk di mata konsumen. Perlu tidak mengeluarkan kemasan limited edition? Selama memungkinkan, kenapa tidak? Itu kan “the law of scarcity”. Makin terbatas, orang makin tertarik. Bagus juga untuk para packaging designer, karena mereka jadi banyak proyek… hahaha… Kalau perusahaan ingin mengeluarkan sebuah kemasan, pihak mana saja yang terkait? Pertama adalah klien (pemilik merek) yang memberi arahan dalam proses penciptaan
packaging tersebut seperti siapa target market-nya, apa tujuannya. Kemudian, branding company yang memberikan brand naming, brand research yang mendalam, serta brand identity dan aplikasinya hingga ke tingkat promosi. Juga butuh packaging designer yang merancang kemasan, serta vendor yang menyediakan bahan dan mencetak kemasan itu. Seberapa perlu dilakukan simulasi tentang bagaimana konsumen menggunakan suatu produk? Wajib. Apalagi untuk makanan dan obat-obatan, sebab kadang material kemasan tertentu tidak bisa dicampur dengan makanan. Packaging test harus selalu dilakukan untuk memastikan bahwa fungsi-fungsi kemasan seperti yang diuraikan di atas telah berjalan dengan baik dan tidak merugikan atau membahayakan konsumen. Menurut Anda, apa yang paling diminati konsumen dalam sebuah kemasan?
Kadang ada konsumen yang suka dengan desain, gambar, atau maskot yang bagus. Ada yang suka pada hadiah di dalamnya—ini salah satu cara supaya suatu produk lebih diminati. Ada juga yang senang dengan ukuran lebih besar tapi harganya sama dengan kompetitor. Ada yang suka dengan shape kemasan, misalnya Pocari Sweat dalam bentuk botol PET, karena lebih convenience. Kadang kemasan yang eye-catching lewat POP display di supermarket juga menarik bagi konsumen. Semua itu tergantung pada usia, tingkat pendidikan, pandangan, dan gaya hidup dari setiap individu pemakai.

Bisa disimpulkan, konsumen menilai sebuah kemasan sejak dari impresi pertama sampai saat penggunaan terakhir dari produk tersebut. Mulai dari saat pembelian produk, di mana kemasan harus menarik dan menginformasikan produk secara tepat; saat digunakan, di mana
kemasan harus dapat mempermudah penggunaan produk; juga saat produk selesai dikonsumsi, di mana kemasan itu harus bisa dengan mudah dimusnahkan atau di-recycle. Bagaimana supaya suatu kemasan bisa stand out? Konsumen cuma butuh 2,5 detik untuk menilai apakah dia suka pada suatu packaging di supermarket. Makanya, desainer harus bisa menyiasati agar kemasan itu terlihat menarik walaupun dilihat dari jauh. Misalnya letak deterjen biasanya tidak eye-level, maka elemen kemasannya harus pakai warna bold dan hurufnya besar-besar. Makanya, Rinso warnanya hijau dan bentuknya besar. Attack pakai oranye plus putih. Mereka memilih warna yang ngejreng. Benarkah kemasan yang menarik membuat harga produk jadi lebih mahal?
Tentu saja. Karena kemasannya bisa membuat orang tertarik dan meningkatkan brand awareness. Apalagi kalau produk tersebut sangat berbeda dibandingkan kompetitor, kelasnya
langsung naik. Ambil contoh Gulaku. Sebenarnya ini produk komoditi. Packaging-nya mungkin lebih mahal dari gula di dalamnya. Tapi dibandingkan dengan kompetitor, produk ini beda jauh. Dengan kemasan itu, Gulaku terkesan alami, bersih dan higienis sesuai klaim produk yang menggunakan bahan 100% tebu asli. Penggunaan plastik tranparan pun membuat orang tidak menduga-duga apa isinya. Kemasan itu juga Indonesia banget, dengan ilustrasi perempuan Indonesia dan perkebunan tebu. Harganya lebih mahal daripada produk gula lainnya, tapi banyak orang suka. Begitu juga Evian (air mineral). Bentuk botolnya berbeda. Bisa menimbulkan persepsi bahwa konsumen Evian adalah orang yang mencintai keindahan, mengerti seni, dan berkelas. Di negeri kita, banyak perusahaan yang lebih senang mengkopi ketimbang menciptakan desain packaging yang baru. Kenapa?
Sayang, memang. Ini mungkin karena kurangnya kesadaran akan fungsi kemasan. Banyak yang menganggap: “Ah, kemasan doang, yang penting kan ditutupin.” Jadi belum ada kesadaran bahwa kemasan itu bisa menjual. Di supermarket, dia bisa berperan sebagai silent salesman, tanpa SPG. Kemudian, kadang produsen juga tidak mau investasi mahal-mahal karena toh produknya belum tentu laku. Mereka ingin untung cepat dengan meniru produk lain yang berhasil. Berapa perbandingan biaya kemasan dengan biaya produk secara keseluruhan? Di ritel, rata-rata antara 10-15%. Cuma ini tidak mutlak. Kalau produk komoditi dan air mineral, kemasannya bisa lebih mahal. Belum lagi kalau ada master shipping packaging, itu jadi biaya tambahan. Lantas, bagaimana cara menyiasati mahalnya biaya kemasan? Desain kemasan yang bagus tidak berarti harus mahal. Mahal-tidaknya tergantung bagaimana packaging designer menyiasati dan mencari material terbaik, tapi sesuai dengan anggaran pemilik merek. Caranya, jangan menggunakan material-material yang tidak perlu. Kalau suatu kemasan cukup dengan memakai kertas, ya, jangan gunakan plastik. Jadi, seminimum mungkin penggunaan materialnya. Kemudian, juga bisa menggunakan material yang ramah lingkungan sehingga bisa di-reuse (dipakai lagi) oleh produsen. Atau perusahaan juga bisa memakai bentuk yang sudah jadi seperti gelas. Tinggal pintar-pintarnya perusahaan membuat kemasan itu tampak berbeda. Apa tren-tren khusus dalam packaging yang berkembang dewasa ini? Tren kemasan sekarang adalah eco-friendly. Kini plastik (terbuat dari jagung) pun bisa di- recycle.Di Eropa sudah. Di Indonesia kesadarannya belum begitu bagus, tapi mungkin segera. Apalagi dengan adanya global warming. Saat ini, sustainable packaging materials atau green packaging menjadi fokus dalam industri kemasan. Dengan kemajuan teknologi, para pakar di industri ini menganjurkan pengurangan material yang tidak diperlukan di dalam kemasan, serta menghindari material yang tidak ramah lingkungan. Warna seperti apa yang lagi tren untuk kemasan?
Warna itu lebih ke kultur. Misalnya hitam di banyak negara dihindari untuk produk makanan.
Tapi kalau di Jepang dan Spanyol, itu tidak masalah. Tapi, warna ada unsur psikologisnya.
Misalnya, kuning membawa kebahagiaan, merah memberi appetite, oranye berkonotasi murah. Jadi, menampilkan shopping bag berwarna oranye untuk produk fesyen mahal bukanlah ide yang bagus. Di luar negeri, kemasan merek apa yang Anda nilai sangat powerful? Dengan kemajuan teknologi dan peningkatan kreativitas para packaging designer, sangat banyak kemasan yang menurut saya “do a very good job”. Saya sendiri sangat terkesan pada botol Clearly Canadian yang didesain oleh Karacters Design Group. Kenapa dia hebat? Karena bentuk water drop-nya dibuat ramping. Kemudian, kemasan ini memakai label shrink wrap film yang bisa didaur ulang. Begitu pula botolnya yang terbuat dari gelas dan tutup
aluminium silver-nya. Warna-warna kemasan ini sangat dinamis sehingga jika dipajang di rak toko, sangat menonjol. Dan warnanya “translucent”, bisa memberikan efek tiga dimensi dari tiap sudut. Desain serta warna-warnanya beragam dan indah, penggunaan wordmark, simbol dan pattern designs dalam layout-nya sangat unik dan mengena pada target pasarnya sehingga membangkitkan emotional bonding kepada konsumen. Very fashionable! Terlebih lagi, pada saat yang bersamaan, kemasan ini menciptakan market niche baru untuk produk air mineral. (oleh : ROSLYN ‘n WIRIA)

Sumber : Majalah MARKETING – Edisi 10/2007

Pengemasan Gudeg Kaleng Agar Tahan Lama Tanpa Pengawet

Supaya Sajian Gudeg tak hanya bisa dinikmati dalam dua hari, pembuat gudeg mengemasnya dalam kaleng. Hasilnya, gudeg tahan hingga setahun. Alhasil, pemasaran makanan ini jadi lebih luas dan bisa menjadi oleh-oleh turis mancanegara. J.Ani Kristanti, Anne Marie Happy

 

Kini, Rani, sebut saja begitu, bisa menikmati gudeg kapan saja dan dimana saja. Perempuan asli yogyakarta yang sekarang tengah tugas belajar di Negeri Kanguru itu tak pernah lupa membeli beberapa kaleng gudeg ketika pulang ke kampung halaman tercinta.

Kaleng ? Ya, dalam setahun terakhir, memang semakin banyak pembuat gudeg jogja yang menjajakan makanan khas ini dalam kemasan kaleng. Kemasan baru ini menjadi solusi praktis bagi para penggemar gudeg yang tinggal jauh dari Kota Yogyakarta atau bahkan di luar negeri.

Penjualan gudeg kaleng bermula dari ide Djatu Dwi Kumalasari, pemilik gerai Gudeg Bu Tjitro. Djatu ingin melestarikan Gudeg Bu Tjitro yang telah dikenal masyarakat Yogyakarta maupun pelancong yang datang ke Kota Pelajar ini.

Selain itu, anak Bu Tjitro ini juga ingin membuat produk gudeg yang berbeda sebagai upaya diversifikasi di tengah banyaknya penjual gudeg di Yogyakarta. Apalagi, banyak penggemar gudeg di luar negeri. Kami ingin menciptakan gudeg yang tahan lama, tutur Djatu.

Kemudian, ia menggandeng Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk menciptakan sebuah kemasan yang bisa membuat gudeg buatannya lebih tahan lama. Sejak akhir tahun 2009, Djatu bersama LIPI mulai menggelar penelitian gudeg dalam kaleng.

Setelah melalui proses panjang,
pertengahan tahun lalu, Djatu mulai berani menjual gudeg kaleng. Penelitian berjalan cukup lama lantaran Djatu tak ingin menggunakan pengawet. Ternyata, membuat gudeg kaleng dengan cita rasa seperti gudeg aslinya tidak mudah. Beberapa kali penelitian, saya masih belum mendapatkan cita rasa yang sesuai keinginan, ujarnya.

Kini, dalam sebulan, Djatu bisa menjual hingga 5.000 kaleng gudeg. Sajian gudeg kering yang dilengkapi dengan telur bebek, daging ayam kampung, dan sambal krecek itu, ia banderol mulai Rp. 20.000 hingga Rp. 27.000 per kaleng. Wilayah penjualan turut menentukan harga jual produk unik itu.

Kesuksesan gudeg kaleng Bu Tjitro tentu menginspirasi pemilik warung gudeg lainnya. Salah satunya Elies Dyah. Wanita yang semula hanya menjual gudeg dalam wadah kendil (gudeg kendil) ini juga tertarik untuk menjual gudeg kaleng. Awalnya, kami hanya ingin memproduksi gudeg yang lebih tahan lama karena gudeg kendil dan isinya bertahan tak sampai dua hari, ujar Elies.

Alhasil, ketika LIPI menawari dirinya untuk bekerjasama, Elies segera menyambutnya.Masakan gudeg buatannya pun harus menjalani proses penelitian terlebih dahulu agar memenuhi persyaratan pengemasan dalam kaleng.

Setelah beberapa persyaratan terpenuhi, Elies mulai memproduksi gudeg kaleng berlabel Bu Lies. Setelah beberapa lama bekerjasama dengan LIPI, Elies kemudian memutuskan untuk membuat pabrik gudeg kaleng di rumahnya.

Gudeg kaleng Bu Elies ini bisa bertahan hingga satu tahun. Isi paket gudeg kaleng itu hampir sama dengan gudeg kendil, yakni : telur bebek, tahu, gudeg nangka, sambal krecek, dan sambal goreng tempe.

Hanya, Elies tak menambahkan daging ayam di dalam gudeg kaleng karena belum lolos penelitian LIPI. Tapi, di masa mendatang, ia berencana memasarkan gudeg kaleng dengan tambahan daging ayam.

Meski kapasitas pabriknya belum terpakai 100 %, saat ini, Elies sudah memproduksi 100 gudeg kaleng per hari. Ia menjual gudeg kaleng seberat 300 gram itu Rp. 25.000 per kaleng.

Seperti halnya gudeg Bu Tjitro, gudeg kaleng Bu Lies juga mendapatka respon positif. Maklum, meski penjual gudeg tak terhitung jumlahnya, belum banyak yang memproduksi gudeg dalam kaleng di Kota Gudeg.

Selain pembeli dari sekitar Yogyakarta, gudeg kaleng juga diminati oleh turis-turis asing yang membeli sebagai oleh-oleh. Banyak turis dari Australia, Jepang dan Amerika Serikat (AS) yang berbelanja gudeg di Wijilan ini, kata Elies.

Demikian pula dengan gudeg Bu Tjitro. Para pelancong dari luar negeri, seperti AS, Singapura, Belanda, Jerman, dan Prancis sering membeli gudeg kaleng sebagai oleh-oleh. Bahkan, selain di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Banjarmasin dan Balikpapan, Djatu sudah memiliki re-seller di beberapa negara Asia. Yakni, di Malaysia, Singapura, dan Jepang.

Butuh Modal Besar

Dengan memperpanjang masa kedaluwarsa masakan ini, para pengolah gudeg memang ingin menjangkau daerah pemasaran yang lebih luas. Djatu berniat untuk mengekspor gudeg ke negara-negara di Eropa. Sayang, perizinan sulit diperoleh karena negara-negara di Eropa memiliki standar tersendiri untuk makanan yang masuk ke negara mereka.

Selain itu, pengolah buah nangka muda ini mungkin belum siap menggelontorkan modal cukup besar. Pasalnya, biaya untuk memproduksi gudeg kaleng secara rutin dalam kapasitas besar cukup mahal.

Meskipun harga setiap unit kemasan kaleng lebih murah ketimbang kendil, para pengusaha gudeg harus merogoh modal besar untuk berbelanja kaleng. Maklum, penjual kaleng menetapkan jumlah pembelian kaleng minimal 50.000 unit. Taruh kata harga satu kaleng sebesar Rp. 4.000, modal untuk pembelian kaleng saja mencapai Rp. 200 juta. Selain itu, untuk menyimpan kaleng juga dibutuhkan gudang yang steril dan bebas air hujan.

LIPI mengakui kebutuhan modal yang besar itu. Dana untuk membeli kaleng cukup besar, karena untuk membeli satu paket kaleng, bisa menelan biaya Rp. 100 juta, kata Mukhamad Angwar, Koordinator Produksi UPT BPPTK LIPI.

Untuk menyiasati hambatan tersebut, Elies berencana membuat aneka masakan tradisional lain yang juga bisa dikemas di dalam kaleng. Misalnya rendang, rawon dan brongkos. Sadar tak memiliki keahlian memasak semua jenis makanan, Elies siap bekerjasama dengan pengusaha lain.

 

 

Memberi Nilai Tambah Masakan Tradisional

Meski banyak perusahaan pengalengan di negeri ini, masih sedikit yang mengemas masakan tradisional di dalam kaleng. Peluang inilah yang dilihat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat mulai meneliti pengemasan kaleng untuk masakan tradisional.

Sejak era 1990-an, LIPI telah mulai memproduksi makanan tradisional yang dikemas di dalam kaleng. Waktu itu, kami tertarik mengemas makanan tradisional dalam kaleng karena memiliki nilai tambah, tutur Mukhamad Angwar, Koordinator Produksi UPT BPPTK LIPI.

Awalnya, LIPI memproduksi tempe kari dalam kaleng. Melihat respon yang baik, mereka memproduksi makanan tradisional lain, seperti gudeg, sayur lombok ijo, mangut lele, tahu kari, rendang, gulai, rawon, telur puyuh, hingga koktail.

Namun, seiring berjalannya waktu, hanya beberapa produk saja yang memiliki nilai jual yang baik. Kari tempe, gudeg, mangut lele, dan sayur lombok ijo merupakan olahan makanan yang paling banyak dicari.

Dalam sebulan, melalui Koperasi LIPI Gading (KOLIGA) LIPI mampu menjual 50 hingga 100 kaleng olahan makanan itu. Selain menjual langsung, Koliga juga memasarkan masakan tradisional kalegan itu melalui website LIPI dan Koliga. Mereka juga aktif mengikuti pameran dan melayani pemesanan untuk suvenir dan oleh-oleh. Koliga juga mendistribusikan olahan tersebut ke dua supermarket besar di Kota Yogyakarta.

Angwar menilai, gudeg kaleng punya potensi bisnis yang besar. Pasalnya, penggemar masakan ini cukup banyak, baik dari dalam maupun luar negeri. Belanda bisa menjadi pasar yang potensial untuk ekspor gudeg kaleng. Selain itu, pemasaran juga bisa dilakukan bersama jemaah haji sehingga bisa dijadikan oleh-oleh, ujarnya.

Tak berhenti dengan pengemasan kaleng, LIPI juga mengembangkan pengemasan makanan dengan menggunakan aluminium foil atau plastik nilon berbentuk kantong (pouch). Kedua jenis kemasan ini memiliki kualitas yang sama dengan kemasan kaleng, namun harganya lebih murah. LIPI mengklaim, dengan dua kemasan tersebut, pihaknya bisa berhemat ongkos produksi hingga 20 %.

 

Bahan Harus Segar dan Tahan Suhu Tinggi

Sebagai pihak yang meneliti dan melakukan pengemasan dalam kaleng, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menetapkan persyaratan khusus agar sebuah masakan bisa dikemas ke dalam kaleng. Apalagi, proses pengalengan makanan tradisional seperti gudeg tidak menggunakan bahan kimia sebagai pengawet.

Pertama, bahan baku masakan harus benar-benar segar sesuai standar internasional dan prosedur pengalengan di UPT BPPTK LIPI. Untuk ikan dan daging, dari yang masih hidup, begitu dipotong langsung diolah, begitu juga untuk sayur juga harus langsung diolah setelah dipetik, kata Mukhamad Angwar, Koordinator Produksi UPT BPPTK LIPI.

Kedua, bahan makanan itu harus bisa bertahan dalam suhu tinggi hingga 1210 Celcius (C). Artinya, masakan tak berubah, baik warna maupun bentuknya, jika dipanaskan dalam suhu tinggi. Makanan itu tak berubah menjadi bubur, misalnya, ujar Angwar.

LIPI menggunakan langkah-langkah sesuai prinsip fisika dalam proses pengalengan ini. Proses ini dimulai dengan menimbang dan memasukkan gudeg yang sudah masak kedalam kaleng kosong yang terlebih dulu disterilkan. Selanjutnya, dilakukan penghampaan udara di permukaan gudeg menggunakan uap panas pada suhu 900 C – 950 C. Gudeg itu kemudian ditutup dengan menggunakan mesin penutup kaleng dan dilanjutkan dengan sterilisasi.

Gudeg yang sudah dikemas dalam kaleng tertutup itu kemudian dimasukkan kedalam alat sterilisasi dengan suhu 1210 C selama 15 menit. Setelah itu, kaleng-kaleng berisi gudeg dimasukkan kedalam air dingin yang sudah steril. Tujuannya supaya mikroba jenis spora yang tahan panas pecah, sehingga semua mikroba dalam gudeg itu mati, jelas Angwar.

Setelah selesai, kaleng dikeringkan dan dikarantina 15 hari untuk memastikan apakah masih ada mikroba yang tersisa. Sebab, bila masih ada mikroba, gudeg akan mengalami proses fermentasi dan kaleng akan mengembung. Bila hal itu terjadi, artinya pengalengan gudeg gagal. Namun, bila selama 15 hari kaleng tetap normal, gudeg itu layak dikonsumsi setiap hari. Dalam tujuh jam, LIPI bisa mengemas 1.000 gudeg kaleng.

 

Sumber : Tabloid Kontan, Edisi 20-27 Maret 2012, Kolom Makanan.

 

Distributor Kemasan Kaleng di Jakarta

Kami PT. Sri Karya Bangun Pratama Distributor Kemasan Kaleng di Jakarta mendistribusikan dan menjual berbagai kemasan kaleng. Kaleng yang kami kombinasi antara PET dan TIN yang memiliki  mutu Food Grade yang tentunya aman untuk makanan. Kemasan kaleng ini biasa digunakan untuk mengemas kornet, kemasan tuna, kaleng sarden, kaleng minuman, kaleng jamur, kaleng gudek, kaleng tempe, kaleng makanan beku, rendang kemasan kaleng, kaleng ikan dan lain-lain.

Kemasan kaleng ini menggunakan tutup mudah buka atau disebut EOE dengan standar yang sangat baik untuk mengemas makanan maupun minuman.

Kami juga menyediakan mesin penutup kemasan EOE dengan harga yang terjangkau.

Untuk order dapat klik disini