Pengemasan Gudeg Kaleng Agar Tahan Lama Tanpa Pengawet

Sedang mencari info tentang Pengemasan Gudeg Kaleng Agar Tahan Lama Tanpa Pengawet ?. Jika itu yang Anda cari maka sekarang Anda sedang berada dihalaman yang tepat karena kami Kemasan Kaleng terpercaya yang siap mengirimkan pesanan ke Seluruh Wilayan indonesia. Untuk Informasi lebih Lanjut, Anda bisa langsung hubungi kami di Call, SMS, Whatsapp : 0813-8245-4553.

Supaya Sajian Gudeg tak hanya bisa dinikmati dalam dua hari, pembuat gudeg mengemasnya dalam kaleng. Hasilnya, gudeg tahan hingga setahun. Alhasil, pemasaran makanan ini jadi lebih luas dan bisa menjadi oleh-oleh turis mancanegara. J.Ani Kristanti, Anne Marie Happy

 

Kini, Rani, sebut saja begitu, bisa menikmati gudeg kapan saja dan dimana saja. Perempuan asli yogyakarta yang sekarang tengah tugas belajar di Negeri Kanguru itu tak pernah lupa membeli beberapa kaleng gudeg ketika pulang ke kampung halaman tercinta.

Kaleng ? Ya, dalam setahun terakhir, memang semakin banyak pembuat gudeg jogja yang menjajakan makanan khas ini dalam kemasan kaleng. Kemasan baru ini menjadi solusi praktis bagi para penggemar gudeg yang tinggal jauh dari Kota Yogyakarta atau bahkan di luar negeri.

Penjualan gudeg kaleng bermula dari ide Djatu Dwi Kumalasari, pemilik gerai Gudeg Bu Tjitro. Djatu ingin melestarikan Gudeg Bu Tjitro yang telah dikenal masyarakat Yogyakarta maupun pelancong yang datang ke Kota Pelajar ini.

Selain itu, anak Bu Tjitro ini juga ingin membuat produk gudeg yang berbeda sebagai upaya diversifikasi di tengah banyaknya penjual gudeg di Yogyakarta. Apalagi, banyak penggemar gudeg di luar negeri. Kami ingin menciptakan gudeg yang tahan lama, tutur Djatu.

Kemudian, ia menggandeng Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk menciptakan sebuah kemasan yang bisa membuat gudeg buatannya lebih tahan lama. Sejak akhir tahun 2009, Djatu bersama LIPI mulai menggelar penelitian gudeg dalam kaleng.

Setelah melalui proses panjang,
pertengahan tahun lalu, Djatu mulai berani menjual gudeg kaleng. Penelitian berjalan cukup lama lantaran Djatu tak ingin menggunakan pengawet. Ternyata, membuat gudeg kaleng dengan cita rasa seperti gudeg aslinya tidak mudah. Beberapa kali penelitian, saya masih belum mendapatkan cita rasa yang sesuai keinginan, ujarnya.

Kini, dalam sebulan, Djatu bisa menjual hingga 5.000 kaleng gudeg. Sajian gudeg kering yang dilengkapi dengan telur bebek, daging ayam kampung, dan sambal krecek itu, ia banderol mulai Rp. 20.000 hingga Rp. 27.000 per kaleng. Wilayah penjualan turut menentukan harga jual produk unik itu.

Kesuksesan gudeg kaleng Bu Tjitro tentu menginspirasi pemilik warung gudeg lainnya. Salah satunya Elies Dyah. Wanita yang semula hanya menjual gudeg dalam wadah kendil (gudeg kendil) ini juga tertarik untuk menjual gudeg kaleng. Awalnya, kami hanya ingin memproduksi gudeg yang lebih tahan lama karena gudeg kendil dan isinya bertahan tak sampai dua hari, ujar Elies.

Alhasil, ketika LIPI menawari dirinya untuk bekerjasama, Elies segera menyambutnya.Masakan gudeg buatannya pun harus menjalani proses penelitian terlebih dahulu agar memenuhi persyaratan pengemasan dalam kaleng.

Setelah beberapa persyaratan terpenuhi, Elies mulai memproduksi gudeg kaleng berlabel Bu Lies. Setelah beberapa lama bekerjasama dengan LIPI, Elies kemudian memutuskan untuk membuat pabrik gudeg kaleng di rumahnya.

Gudeg kaleng Bu Elies ini bisa bertahan hingga satu tahun. Isi paket gudeg kaleng itu hampir sama dengan gudeg kendil, yakni : telur bebek, tahu, gudeg nangka, sambal krecek, dan sambal goreng tempe.

Hanya, Elies tak menambahkan daging ayam di dalam gudeg kaleng karena belum lolos penelitian LIPI. Tapi, di masa mendatang, ia berencana memasarkan gudeg kaleng dengan tambahan daging ayam.

Meski kapasitas pabriknya belum terpakai 100 %, saat ini, Elies sudah memproduksi 100 gudeg kaleng per hari. Ia menjual gudeg kaleng seberat 300 gram itu Rp. 25.000 per kaleng.

Seperti halnya gudeg Bu Tjitro, gudeg kaleng Bu Lies juga mendapatka respon positif. Maklum, meski penjual gudeg tak terhitung jumlahnya, belum banyak yang memproduksi gudeg dalam kaleng di Kota Gudeg.

Selain pembeli dari sekitar Yogyakarta, gudeg kaleng juga diminati oleh turis-turis asing yang membeli sebagai oleh-oleh. Banyak turis dari Australia, Jepang dan Amerika Serikat (AS) yang berbelanja gudeg di Wijilan ini, kata Elies.

Demikian pula dengan gudeg Bu Tjitro. Para pelancong dari luar negeri, seperti AS, Singapura, Belanda, Jerman, dan Prancis sering membeli gudeg kaleng sebagai oleh-oleh. Bahkan, selain di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Banjarmasin dan Balikpapan, Djatu sudah memiliki re-seller di beberapa negara Asia. Yakni, di Malaysia, Singapura, dan Jepang.

Butuh Modal Besar

Dengan memperpanjang masa kedaluwarsa masakan ini, para pengolah gudeg memang ingin menjangkau daerah pemasaran yang lebih luas. Djatu berniat untuk mengekspor gudeg ke negara-negara di Eropa. Sayang, perizinan sulit diperoleh karena negara-negara di Eropa memiliki standar tersendiri untuk makanan yang masuk ke negara mereka.

Selain itu, pengolah buah nangka muda ini mungkin belum siap menggelontorkan modal cukup besar. Pasalnya, biaya untuk memproduksi gudeg kaleng secara rutin dalam kapasitas besar cukup mahal.

Meskipun harga setiap unit kemasan kaleng lebih murah ketimbang kendil, para pengusaha gudeg harus merogoh modal besar untuk berbelanja kaleng. Maklum, penjual kaleng menetapkan jumlah pembelian kaleng minimal 50.000 unit. Taruh kata harga satu kaleng sebesar Rp. 4.000, modal untuk pembelian kaleng saja mencapai Rp. 200 juta. Selain itu, untuk menyimpan kaleng juga dibutuhkan gudang yang steril dan bebas air hujan.

LIPI mengakui kebutuhan modal yang besar itu. Dana untuk membeli kaleng cukup besar, karena untuk membeli satu paket kaleng, bisa menelan biaya Rp. 100 juta, kata Mukhamad Angwar, Koordinator Produksi UPT BPPTK LIPI.

Untuk menyiasati hambatan tersebut, Elies berencana membuat aneka masakan tradisional lain yang juga bisa dikemas di dalam kaleng. Misalnya rendang, rawon dan brongkos. Sadar tak memiliki keahlian memasak semua jenis makanan, Elies siap bekerjasama dengan pengusaha lain.

 

 

Memberi Nilai Tambah Masakan Tradisional

Meski banyak perusahaan pengalengan di negeri ini, masih sedikit yang mengemas masakan tradisional di dalam kaleng. Peluang inilah yang dilihat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat mulai meneliti pengemasan kaleng untuk masakan tradisional.

Sejak era 1990-an, LIPI telah mulai memproduksi makanan tradisional yang dikemas di dalam kaleng. Waktu itu, kami tertarik mengemas makanan tradisional dalam kaleng karena memiliki nilai tambah, tutur Mukhamad Angwar, Koordinator Produksi UPT BPPTK LIPI.

Awalnya, LIPI memproduksi tempe kari dalam kaleng. Melihat respon yang baik, mereka memproduksi makanan tradisional lain, seperti gudeg, sayur lombok ijo, mangut lele, tahu kari, rendang, gulai, rawon, telur puyuh, hingga koktail.

Namun, seiring berjalannya waktu, hanya beberapa produk saja yang memiliki nilai jual yang baik. Kari tempe, gudeg, mangut lele, dan sayur lombok ijo merupakan olahan makanan yang paling banyak dicari.

Dalam sebulan, melalui Koperasi LIPI Gading (KOLIGA) LIPI mampu menjual 50 hingga 100 kaleng olahan makanan itu. Selain menjual langsung, Koliga juga memasarkan masakan tradisional kalegan itu melalui website LIPI dan Koliga. Mereka juga aktif mengikuti pameran dan melayani pemesanan untuk suvenir dan oleh-oleh. Koliga juga mendistribusikan olahan tersebut ke dua supermarket besar di Kota Yogyakarta.

Angwar menilai, gudeg kaleng punya potensi bisnis yang besar. Pasalnya, penggemar masakan ini cukup banyak, baik dari dalam maupun luar negeri. Belanda bisa menjadi pasar yang potensial untuk ekspor gudeg kaleng. Selain itu, pemasaran juga bisa dilakukan bersama jemaah haji sehingga bisa dijadikan oleh-oleh, ujarnya.

Tak berhenti dengan pengemasan kaleng, LIPI juga mengembangkan pengemasan makanan dengan menggunakan aluminium foil atau plastik nilon berbentuk kantong (pouch). Kedua jenis kemasan ini memiliki kualitas yang sama dengan kemasan kaleng, namun harganya lebih murah. LIPI mengklaim, dengan dua kemasan tersebut, pihaknya bisa berhemat ongkos produksi hingga 20 %.

 

Bahan Harus Segar dan Tahan Suhu Tinggi

Sebagai pihak yang meneliti dan melakukan pengemasan dalam kaleng, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menetapkan persyaratan khusus agar sebuah masakan bisa dikemas ke dalam kaleng. Apalagi, proses pengalengan makanan tradisional seperti gudeg tidak menggunakan bahan kimia sebagai pengawet.

Pertama, bahan baku masakan harus benar-benar segar sesuai standar internasional dan prosedur pengalengan di UPT BPPTK LIPI. Untuk ikan dan daging, dari yang masih hidup, begitu dipotong langsung diolah, begitu juga untuk sayur juga harus langsung diolah setelah dipetik, kata Mukhamad Angwar, Koordinator Produksi UPT BPPTK LIPI.

Kedua, bahan makanan itu harus bisa bertahan dalam suhu tinggi hingga 1210 Celcius (C). Artinya, masakan tak berubah, baik warna maupun bentuknya, jika dipanaskan dalam suhu tinggi. Makanan itu tak berubah menjadi bubur, misalnya, ujar Angwar.

LIPI menggunakan langkah-langkah sesuai prinsip fisika dalam proses pengalengan ini. Proses ini dimulai dengan menimbang dan memasukkan gudeg yang sudah masak kedalam kaleng kosong yang terlebih dulu disterilkan. Selanjutnya, dilakukan penghampaan udara di permukaan gudeg menggunakan uap panas pada suhu 900 C – 950 C. Gudeg itu kemudian ditutup dengan menggunakan mesin penutup kaleng dan dilanjutkan dengan sterilisasi.

Gudeg yang sudah dikemas dalam kaleng tertutup itu kemudian dimasukkan kedalam alat sterilisasi dengan suhu 1210 C selama 15 menit. Setelah itu, kaleng-kaleng berisi gudeg dimasukkan kedalam air dingin yang sudah steril. Tujuannya supaya mikroba jenis spora yang tahan panas pecah, sehingga semua mikroba dalam gudeg itu mati, jelas Angwar.

Setelah selesai, kaleng dikeringkan dan dikarantina 15 hari untuk memastikan apakah masih ada mikroba yang tersisa. Sebab, bila masih ada mikroba, gudeg akan mengalami proses fermentasi dan kaleng akan mengembung. Bila hal itu terjadi, artinya pengalengan gudeg gagal. Namun, bila selama 15 hari kaleng tetap normal, gudeg itu layak dikonsumsi setiap hari. Dalam tujuh jam, LIPI bisa mengemas 1.000 gudeg kaleng.

 

Sumber : Tabloid Kontan, Edisi 20-27 Maret 2012, Kolom Makanan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.